IBU MENYUSUI : PILIHAN DAN TANTANGAN


Penyusuan adalah gaya hidup

Setiap ibu, pada beberapa minggu pertama kelahiran bayinya, sedikit banyak akan mengalami hari-hari ketika Anda siap melemparkan bra khusus menyusui dan segera meraih botol untuk memberi makan bayi Anda. Namun ketika Anda menyadari berapa besar manfaat penyusuan bagi ibu, bayi, dan keluarga, saya yakin Anda akan berjuang keras untuk mengatasi masalah tersebut dan mencari banyak informasi untuk segera menguasai seni mempersiapkan dan memberikan ASI pada bayi Anda sebagai nutrisi bayi yang paling tua dan terpilih ini.

 

Saya sendiri mendapati betapa banyak saudara, teman, dan ibu-ibu disekitar saya yang tidak berhasil menjalankan proses penyusuan pada bayinya, semuanya hanya karena minimnya informasi, tidak adanya dukungan, namun yang paling kuat adalah rasa pesimistis ibu terhadap kemampuannya memberikan ASI – mulai dari air susu tidak keluar, putting yang tidak dapat dihisap oleh bayi, tidak ada waktu, takut payudaranya turun, dan juga iming-iming berbagai susu formula yang “katanya” dapat menbuat bayi lebih sehat dan cerdas. Bersyukur Anda membaca tulisan ini, yang semata hanya ingin menggugah naluri keibuan Anda dan memberikan dukungan psikologis agar dapat memberikan nutrisi terbaik bagi bayi Anda.

 

Kekuatan pikiran Ibu

Braak!! Tiba-tiba seorang ibu tercengang karena mendengar dan melihat saya menjatuhkan bola lampu pijar pada sebuah keramik….. Mana yang pecah? Memang di luar dugaan – keramiknya yang pecah! Secara logika memang tidak mungkin bola lampu pijar yang dijatuhkan dari ketinggian 1,5 meter dapat memecahkan sebuah keramik. Ajaib? Mistik? TIDAK! Karena memang begitulah kinerja pikiran. Hanya dengan memprogram pikiran untuk mengimajinasikan bola lampu itu adalah sebuah batu / benda berat, maka pikiran kita yakin bahwa bola lampu itu mampu memecahkan keramik.

 

Itu hanyalah sebuah ilustrasi dimana sesuatu yang kita anggap tidak mungkin menjadi mungkin dengan “memprogram” ulang pikiran kita. Nah, demikianlah proses menyusui, ketika kita beranggapan bahwa kita tiak dapat menyusui, maka benarlah produksi air susu tidak berlangsung, namun ketika kita dapat “memprogram” pikiran bahwa produksi air susu berlimpah, maka demikianlah yang terjadi. Memang, berbagai makanan, nutrisi dan vitamin dipercaya mampu meningkatkan produksi ASI, namun tahukah Anda, bahwa semua yang Anda konsumsi itu akan menjadi tidak berguna ketika Anda tidak memiliki gambaran maupun kepercayaan diri akan produksi air susu Anda? Pikiran Anda adalah hal yang mendasar atas hal ini.

 

Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

  1. Pikiran tidak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan

Coba saja amati, beberapa waktu yang lalu, ketika masih ada tontongan-tontonan di televisi seperti Dunia Lain, Percaya Nggak Percaya, dan sebagainya, beberapa diantara kita mulai mempunyai rasa takut ketika akan ke toilet di malam hari. Padahal toilet di rumah yang kita tinggali bertahun-tahun sebelumnya biasanya juga tidak menakutkan, namun entah mengapa malam itu setelah kita menonton tayangan seperti itu, kita jadi takut. Padahal hantunya juga tidak ada, namun rasa takut ini memproses kerja otak sehingga otak didominasi oleh “rasa” yang tidak melihat lagi kenyataaan seperti apa dan muncullah rasa takut yang sebenarnya tidak beralasan. Demikianlah kerja pikiran kita, informasi apapun yang kita kirim ke otak, dia tidak akan membedakan antara nyata dan tidak nyata.

  1. Cara kerja pikiran adalah bahasa visual

Pembaca, misalnya saya minta anda membayangkan sebuah buah jeruk,saya yakin yang terlintas dalam benak anda pastilah sebuah “buah jeruk”, bukan tulisan “j - e - r - u - k”, demikian kinerja pikiran kita dapat dijelaskan secara sederhana, ia bekerja secara visual. Artinya, ketika kita membayangkan sesuatu, maka gambaran-gambaran benda yang kita ciptakan akan langsung melekat dengan kuat. Cara inilah yang seringkali digunakan untuk melatih atlit-atlit, mereka diminta untuk memvisualisasikan atau membayangkan bagaimana mereka mampu mencapai kemenangan dan membayangkan ketika mereka naik ke podium untuk menerima medali. Hal ini digunakan untuk menciptakan keyakinan bahwa hal kemenangan sudah di depan mata sehingga mereka merasa sangat yakin.

  1. Tubuh bekerja mengikuti pikiran

Pernah kita berkata “Aduh badanku kok rasanya ga’ enak gini ya… sepertinya mau sakit” ternyata benar sesaat kemudian tubuh kita mulai demam dan sebagainya. Namun di kesempatan lain, misalnya kita sedang menunggui kerabat atau anak kita yang sedang di opname di rumah sakit, saat itu kita rasanya sanggup begadang berhari-hari tanpa sakit. Nah hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya tubuh kita akan bereaksi sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan rasakan.

 

Demikianlah ketika dalam pikiran ibu adalah ASI, maka secara alamiah, bayi Anda akan menerima payudara Anda, dan payudara Anda akan sesegera mungkin memproduksi lebih banyak air susu untuk bayi Anda. Hal yang sederhana, bukan?

 

Berpikir tentang bayi = berpikir tentang ASI

Coba saja, ketika saya minta Anda menjawab secara spontan apa yang muncul dalam pikiran Anda ketika saya menyebutkan kata-kata di berikut : Sabun cuci? Air mineral dalam kemasan? Pasta gigi? ATM? Pasti hampir semua dari Anda akan menjawab : rinso, aqua, pepsoden, bca. Bukan promosi -  tapi hanya contoh saja, bagaimana pikiran kita sudah membentuk pola bahwa yang namanya sabun cuci adalah rinso, yang namanya pasta gigi adalah pepsoden, padahal belum tentu kita menggunakan sabun cuci dan pasta gigi merk tersebut, bukan?

 

Itulah cara kerja pikiran berikutnya, bahwa pikiran manusia secara tidak disadari akan membentuk asosiasi-asosiasi yang secara sengaja dapat kita ciptakan. Nah, begitu pikiran Anda mampu mengasosiasikan, ketika Anda berpikir tentang bayi Anda maka Anda berpikir mengenai ASI, maka tubuh Anda akan merespon dengan memproduksi Asi lebih banyak lagi.

 

Caranya?

Berkomunikasilah pada diri Anda sendiri, Deepak Chopra, seorang ahli pengobatan tradisional India, bahkan menyatakan bahwa setiap hari seorang manusia dapat berbicara kepada dirinya sendiri (self talk), sebanyak 55.000-60.000 kali. Sayangnya, sebagian besar kalimatnya (77 %) bersifat negatif dan melemahkan diri kita. Seperti jika kita sedang mengasihani diri ketidakmampuan kita, dan mengeluhkan sakit yang kita derita.

 

Bentuk self talk memang tidak selalu ucapan verbal yang kita dengar secara harafiah. Ia merupakan bentuk komunikasi, baik yang kita ucapkan kepada diri sendiri menggunakan mulut kita, maupun ide dan berbagai pikiran yang sering tidak kita sadari karena tidak diperhatikan atau tidak masuk ke ruang lingkup pusat kesadaran kita. Tapi adanya dalam pusat bawah sadar.

 

John Demartini juga mengatakan bahwa rasa cinta serta pernyataan syukur akan melarutkan semua perasaan negatif dalam hidup, terlepas dari apa pun bentuk yang telah menjadi perwujudannya. Demikian pula terhadap ketidakmampuan, cinta dan syukur perlahan memupuskannya. Mengapa hal ini dapat terjadi? Karena begitu Anda memilih pikiran Anda, maka perasaan Anda-lah yang dapat merasakannya.

 

Selain itu, emosi yang intens juga merupakan cara yang ampuh untuk menanamkan informasi pada area kritis ini. Misalnya orang yang frustrasi, jika ia terus menerus “mengasihani” dirinya sendiri, membaca kisah-kisah pengalaman hidup orang lain atau menonton film yang sama frustrasinya dengan dia, maka dia akan terjebak pada sebuah lingkaran emosi frustrasi. Untuk dapat melompat keluar dari kondisi emosi tersebut, seseorang harus mencari perbendaharaan kata emosi lain untuk diinput ke dalam pikirannya.

 

Begitu pula perasaan negatif  yang terus menerus muncul, akan mengakibatkan perilaku dan kondisi yang negatif. Begitu pula sebaliknya dengan perasaan positif. Ingat, pikiran Anda sejalan dengan perasaan yang sedang Anda rasakan. Memang, saya juga mengalami bahwa tidak mudah memiliki emosi yang positif dikala kita msih beradaptasi dengan hadirnya si bayi dalam kehidupan Anda, belum lagi dengan belum sembuhnya luka lahir (jahitan operasi caesar atau episiotomi), kelelahan karena musti begadang semalaman, nasehat dari berbagai pihak, dan sebagainya. Mungkin Anda dapat melakukan beberapa hal yang saya lakukan :

-       Putarlah musik yang Anda sukai sehingga lebih menenangkan.

-       Tontonlah tayangan-tayangan yang positif dan mengembirakan.

-       Simpanlah komitmen Anda untuk menyelesaikan tugas lain seperti membersihkan rumah dengan sempurna sehingga Ana memiliki energi lebih banyak untuk menyusui.

-       Tidurlah ketika bayi Anda tidur.

-       Carilah bantuan – dengan pergi ke konselor laktasi atau mencari kelompok ibu menyusui – bisa melalui pertemuan ataupun internet.

-       Mintalah dukungan dari suami dan keluarga.

-       Lakukan relaksasi.

-       Sebagai pelengkap, Anda dapat menyiapkan “pojok menyusui” dengan menyiapkan tempat atau kursi khusus dengan bantal-bantal penopang punggung dan tangan Anda. Anda juga dapat mempergunakan wangi-wangian atau aromaterapi, mendengarkan musik yang lembut, dan sambil menyusui bayi Anda, ucapkan terimakasih pada tubuh dan bayi Anda “Terima kasih tubuhku, sudah menyiapkan makanan bergizi pada bayiku”, “Terima kasih anakku, mau menerima makanan dari ibu”.

Amelia@sinergia0110

 

Cara melakukan relaksasi :

1.     Duduklah atau berbaring dengan tenang, atur nafas Anda agar lebih ritmis lagi.

2.     Masuk dalam suasana hening

3.     Rasakan kenyamanan dan rasakan diri Anda merasa lebih tenaaang lagi.

4.     Ucapkan kalimat yang Anda ingin masukkan dalam jiwa Anda sepenuh hati, ucapkan dengan sangat perlahan dan dengan tempo yang sangat lambat. Anda dapat ucapkan kalimat apapun asalkan kalimat tunggal, positif, dan sesuai dengan keyakinan Anda.

5.     Misalnya :

“Aku mensyukuri diriku apa adanya”

“Aku merasa makin tenang, makin tenang, makin tenang…

“Aku merasa lebih sehat, lebih sehat, lebih sehat…”

“Aku memproduksi air susu yang cukup untuk bayiku…”

6.     Jika Anda merasa masih belum nyaman untuk menerima diri Anda apa adanya, maka ulangi lagi dari langkap pertama. Lakukan berulang-ulang sehingga Anda akan terbiasa.

7.     Ucapkan terima kasih pada pikiran dan tubuh Anda.

 

 

 

 

 

Leave a comment

Name: (Required)

eMail: (Required)

Website:

Comment: