Pengalaman ikut Building Bridges

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti kelas Building Bridges for Human Resources, padahal bidang HR adalah hal yang sangat asing bagi saya. Dan yang saya rasakan, loh… ada toh caranya berkomunikasi???

Banyak orang yang berkeluh kesah mengapa mereka sulit berkomunikasi dengan atasan, bawahan, relasi, keluarga maupun teman. Mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan telah sia-sia karena tidak mendapatkan respon yang positif dari lawan bicaranya dan mereka lalu menyalahkan orang lain terlebih lagi dengan kesibukan-kesibukan mereka. Sebagai contoh, ada seorang karyawan memiliki ide-ide yang gemilang untuk mengembangkan perusahaan tetapi ide-ide tersebut tidak pernah tersampaikan ke atasan dan dia tidak pernah mau bertanya apabila mengalami kesulitan karena karyawan tersebut takut untuk berbicara dengan atasannya sedangkan atasan menganggap bahwa karyawan tersebut telah menguasai benar pekerjaannya. Alhasil karyawan tersebut mendapatkan omelan-omelan dari atasannya. Menurut atasan, kerjaan karyawan itu selalu salah dan dianggap tidak mempunyai kemampuan untuk bekerja sedangkan sang bawahan merasa bahwa dia telah berusaha semaksimal mungkin dan dia juga merasa bahwa atasan terlalu egois…

Semua ini terjadi karena keakraban hubungan mereka berdua tidak terjalin maka apa yang diinginkan atasan tidak pernah tersampaikan kebawahan begitu juga sebaliknya. Coba anda bayangkan apabila mereka dapat mengembangkan perusahaan bersama-sama dengan pola komunikasi yang baik. Tidak bisa dipungkiri bahwa komunikasi memang memegang peranan yang sangatlah  penting dalam suatu relationship.

Building Bridges For HR sangat efektif diterapkan dalam kehidupan sehari-hari karena membahas bagaimana cara kita berkomunikasi dengan orang lain sehingga terbentuklah suatu keakraban hubungan dan mengulas tuntas tentang NLP (Neuro Linguistic Programing) yaitu bagaimana sistem syaraf kita bekerja sehingga mempengarui bahasa tubuh kita…
Sebagai contoh:
-    Setiap pergerakan bola mata mempunyai masing-masing arti yang berbeda, banyak orang yang menyalahartikan setiap perilaku seseorang contohnya: si (A) duduk terdiam sambil memandang ke arah kanan bawah dan tersenyum lalu si (B) melihatnya dan si (B) mengira kalau si (A) itu gila, tapi tunggu dulu…. Dalam ilmu NLP, orang yang menggerakkan bola matanya ke kanan bawah itu artinya dia sedang mengakses kinestetiknya mungkin saja dia sedang membayangkan bagaimana rasanya menggenggam berlian ditangannya… Eye Accessing Cues dapat digunakan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan orang lain tanpa harus bertanya langsung pada orang tersebut. Coba anda rasakan bila metode ini anda praktekkan pada orang lain, niscaya anda akan semakin lebih dihormati…
-    Ada rombongan ibu-ibu datang ke sebuah hotel yang tua, pada saat di lobby ada seorang ibu yang marah-marah dengan tour guide dan berkata ’’ Gimana sih, saya udah bayar mahal masak dikasih hotel tua kayak gini ’’ Lalu sang tour guide menjawab ’’ Iya ibu, ini memang hotel tua dan kuno. Ibu beruntung, lho bisa menginap di hotel ini. Coba ibu lihat hotel lain, pasti tidak ada hotel bersejarah seperti ini. Ini bangunan peninggalan Belanda lho, dulunya dipergunakan untuk tempat istirahat para raja.’’ Lalu ibu itupun menjawab ’’ O… iya…. Ta… Wah-wah beruntung sekali ya kita… ’’ dan rombongan ibu-ibu itu pun terkagum-kagum melihat setiap sudut ruangan hotel…. Cerita ini dinamakan reframing, yang berarti membingkai ulang suatu peristiwa yang negatif menjadi positif. Bila anda melakukan reframing pada orang lain, maka anda telah membuat orang lain menjadi positif dan reframing sangat cocok dilakukan pada siapa saja termasuk pada diri sendiri.

Masih banyak lagi materi-materi dalam NLP yang bagus sekali untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari maupun di perusahaan..

Pernah ada suatu perusahaan yang salah memilih karyawan, ini disebabkan perusahaan tersebut tidak menggunakan psikotest pada saat rekruitment karyawan karena memang di perusahaan tersebut tidak mempunyai HRD lulusan psikologi. Seharusnya semua ini tidak mungkin terjadi bila HRD menggunakan MPVI Interviewing Guide dlm merekrut karyawan.

MPVI merupakan salah satu instrumen psikotest yang dapat memprediksi pola pikir dan tingkah laku seseorang serta bisa digunakan oleh siapa saja walaupun orang tersebut bukan dari psikologi. Salah satu manfaat dari MPVI yaitu kita dapat mengetahui berapa lama seseorang bertahan kerja di satu perusahaan.

MPVI sangat praktis dan efektif digunakan untuk proses rekruitment dikarenakan kita seakan-akan tidak sedang melakukan tes kepada pelamar tetapi kita mengajak ngobrol mereka dan  pertanyaan-pertanyaan yang kita gunakan sangat sederhana, merekapun tidak perlu menulis atau mengerjakan sesuatu. Mereka hanya duduk dan menjawab pertanyaan kita, selain itu kita bisa menjalin keakraban hubungan, dengan demikian suasana akan menjadi nyaman dan tidak tegang. Proses rekruitment berjalan begitu saja sejalan dengan proses raport. Begitu mudahnya, bukan?

By Eni T.
info@ameliahirawan.com

Leave a comment

Name: (Required)

eMail: (Required)

Website:

Comment: