Perkawinan
Setuju dengan Tubagus P. Svarajati, bahwa lembaga perkawinan adalah suatu konstruksi kesepakatan suami-istri. Niat suci untuk bersedia tidak lagi memerdekakan diri masing-masing. Poin ini menurut saya jauh lebih mulia ketimbang legalitas atau prosesi seremonial sesaat. Bertahun-tahun ke depan ketika body sudah tidak menggitar, kulit tak lagi mulus-mulus, dan keperkasaan cuma menjadi cerita lapuk pengantar tidur, toh suami istri tetaplah suami dan istri, bukan?
Tidak sedikit pasangan yang belakangan ini saya temui – pengen cerai… nah dalam hati saya mulai resah… Apa sih yang terjadi di dunia ini sekarang? Bahkan statistik seorang pemuka agama di Jawa Tengah, mengaku pada saya bahwa dirinya paling tidak menangani 364 kasus perceraian di kota Semarang dalam setahun.
WOW!! Artinya, paling tidak setiap harinya ada pasangan yang bercerai! Ingat, itu baru di Semarang lo!
Batin saya… bodo amat kalian mau cerai… toh itu urusan kalian… Namun, pernahkah Anda bayangkan… trauma dan tekanan psikologis yang dialami oleh anak-anak korban perceraian tersebut? Apalagi ketika mereka tidak benar-benar dipersiapkan secara psikologis untuk menerima perpisahan orangtua mereka… dan … menerima pasangan baru orangtuanya?
So, be in LoVE everyday!!


























teddy wirawan said
am June 5 2008 @ 4:18 pm
saya lihat memang benar banyak sekali perceraian. kadang saya berfikir tentang hal tersebut, bukan pada perceraiannya tetapi mengapa harus melangsungkan perkawinan bila akhirnya bercerai ?
perceraian tersebut adalah bukti nyata bahwa yang bersangkutan belum siap dalam perkawinan.
kalo ditarik ke belakang kesiapan tersebut tidak hanya saling mencintai dan berani berkorban.
hal tersebut menjadi omong kosong bila kenyataanya malah bercerai.
anak yang menjadi korban perceraian akan sangat menderita, diantaranya :
1. merasa berbeda dengan yang lain
2. akan tumbuh dan berkembang lebih liar, lebih lambat, atau lebih terhambat.
3. dia kesulitan menemukan jati dirinya yang wajar seperti orang lain pada umumnya.
4. akan sulit menerima tawaran untuk sebuah perkawinan
5. lebih banyak mencari kehangatan diri dengan kecenderungan lebih egois dengan sesamanya baik yang mengarah pada kerugian pada diri sendiri maupun orang lain.
kira-kira demikian dari saya
salam damai dan sejahtera
teddy wirawan
amelia said
am June 5 2008 @ 7:13 pm
Wow ..wow, it’s GOOD IDEA
- MENGAPA HARUS melangsungkan perkawinan bila akhirnya bercerai?
- perceraian tersebut adalah bukti nyata bahwa yang bersangkutan BELUM SIAP dalam perkawinan.
Ini adalah 2 hal yang memang agak BERBEDA.
So THANKS for YOUR COMMENT, Mr. Teddy.